1.Cerpen
Belajar Naik Sepeda
Pada hari itu,aku sedang berulang tahun,orang tua ku membelikan aku sepedasebagai hadiah nya.Saat itu aku belum bisa naik mengendarai sepeda.Disaat libur sekolah aku belajar naik sepeda dengan saudara ku.Baru mulai menaiki sepeda aku sudah terjatuh,tetapi aku tidak putus asa untuk terus belajar mengendarai sepeda.Saudara ku terus mendampingi ku.Aku dengan semangat terus belajar mengendarai sepeda sampai aku terjatuh beberapa kali.
Setelah beberapa hari aku belajar mengendarai sepeda,akhirnya aku bisa mengendarai sepeda.
Aku sangat senang karena sekarang aku sudah bisa mengendarai sepeda.Setiap hari libur aku selalu mengajak teman-teman ku untuk bermain sepeda.
Disaat aku sedang bermain sepeda dengan teman-teman,salah satu dari teman ku terjatuh lalu aku bersama teman-teman yang lain menolong nya.
2.Cerita Fabel
KURA-KURA DAN KELINCI
Pada zaman dahulu hiduplah seekor kelinci dan kura-kura.Kelinci itu sangat sombong,dia merasa diri nya paling hebat.Di suatu hari kelinci tersebut tak sengaja bertemu dengan kura-kura.Kelinci tersebut mengejek kura kura "hey kura-kura lambat sekali kamu berjalan,lihat aku".Dengan sombong nya kelinci itu berlari kencang.Kura-kura pun hanya terdiam saja dan langsung melanjutkan perjalanan nya.
Lalu kelinci tersebut menantang kura-kura lomba lari.Kura-kura pun menyetujui nya.Keesokan hari nya kura-kura dan kelinci sudah bersiap-siap di tempat perlombaan.Hewan-hewan yang lain pun datang untuk menyaksikan perlombaan lari antara kura-kura dan kelinci.Lalu perlombaan lari pun dimulai,awalnya kelinci memimpin di depan,tetapi kelinci tersebut tertidur di bawah pohon dan kura-kura pun menyusul nya.
Disaat kura-kura hampir menuju finish,tiba-tiba kelinci terbangun dan langsung menyusul kura-kura.Tetapi pada akhirnya yang sampai finish duluan adalah kura-kura.
3.Mitos
JAKA TARUB
Di sebuah desa hiduplah seorang pemuda bernama Jaka Tarub.Suatu hari ia memasuki hutan untuk berburu.Dari kejauhan ia mendengar suara wanita yang sedang bercanda,karena penasaran Jaka Tarub mencari arah menuju suara-suara itu dan akhirnya ia menemukan sebuah danau dan disana ada 7 bidadari yang sangat cantik sedang mandi.Kemudian ia mengendap-ngendap mengambil selendang dari salah satu bidadari tersebut.
Ketika para bidadari itu akan kembali ke khayangan,salah satu dari mereka yang bernama Nawang Wulan selenang nya hilang ia tidak bisa kembali ke khayangan.6 dari mereka sudah pulang ke khayangan.Kemudian Jaka Tarub menghampiri Nawang Wulan,dan mengajak untuk pulang ke rumah nya.
Akhirnya Nawang Wulan ikut pulang bersama Jaka Tarub,dan ia menginap disana.Lama-kelamaan mereka menikah dan mempunyai anak.Dewi Nawang Wulan mempunyai kelebihan,salah satu nya adalah dapat membuat sebakul nasi hanya dari satu biji padi,asalkan tidak ada yang mengetahui hal itu.Dewi Nawang Wulan melarang Jaka Tarub untuk membuka tanakan nasi nya,tetapi karena Jaka Tarub penasaran ia membuka tanakan itu,ia sangat terkejut,karena hanya ada satu biji padi di dalam nya.Kemudian kesaktian Dewi Nawang Wulan pun hilang,sekarang ia harus bersusah payah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,karena ia telah sepenuh nya menjadi manusia biasa.
Suatu hari ia menemukan selendang nya terselip di antara butir-butir padi.Dia kecewa karena Jaka Tarub menyembunyikan selendang milik nya,kemudian Dewi Nawang Wulan kembali ke khayangan.
4.Fabel
Ayam yang Tamak
Pada
zaman dahulu,ada seekor musang yang mendapatkan biji jagung dari kancil.Kancil
berpesan pada musang jika ingin mendapatkan jagung yang banyak tanamlah.Lalu
musang pergi dan akan menanam jagung tersebut.Ketika musang akan menanam jagung
datang seekor ayam,dia akan membantu musang menanam jagung.Setelah jagung
tersebut selesai ditanam musang akan menjemput kancil untuk makan bersama hasil
jagung yang sudah ditanam nya.Musang mempercayai ayam untuk menjaga jagung
jagung tersebut,musang berpesan kepada ayam “jika jagung tersebut sudah berbuah
sisakan untuk aku.” Ayam pun mengangguk.
Kemudian musang pergi menjemput kancil.Setelah beberapa hari
jagung tersebut pun sudah matang,dan ayam berpikiran untuk memakan semua jagung
tersebut.Ayam tersebut mengira bahwa bahwa musang sudah mati,lalu dia mengajak
teman-teman yang lain nya untuk makan jagung sama-sama.Jagung tersebut pun
habis dimakan ayam.
Setelah musang kembali dengan kancil,dia bertanya kepada ayam “ayam
mana jagung untukku?.” Ayam pun hanya terdiam.Lalu musang melihat bekas jagung
yang sudah dimakan.Musang pun marah,dan sejak kejadian itu musang dan ayam menjadi musuh.
5.Cerita Fabel
Gajah yang Serakah
Dahulu kala di sebuah hutan belantara hiduplah seekor gajah yang serakah.Ia sangat menguasai hutan tersebut bahkan tidak boleh ada yang menguasai hutan itu selain gajah.Dan tidak boleh ada yang membawa makanan dari hutan dan jika si gajah mengetahui dia akan marah.
Suatu hari segerombolan tikus datang ke hutan mereka akan mecari makanan,lalu si gajah mengetahui bahwa tikus-tikus tersebut akan mencari makanan di hutan itu.Kemudian si gajah membawa pasukan nya untuk mengusir segerombolan tikus.Lalu si gajah mengusir mereka dengan cara kasar.
Keesokan hari nya ada pemburu yang datang ke hutan lalu ia membuat jebakan.Pada saat itu si gajah sedang berjalan-jalan mengelilingi hutan,karena jalan nya tidak berhati-hati ia terkena perangkap si Pemburu.Lalu si gajah berteriak minta tolong "tolong...tolong...tololong".Kemudian datang segerombolan tikus yang kemarin ia usir dari hutan,lalu mereka membantu sang gajah,dengan cara menggigit tali perangkap itu sampai terlepas dari badan si gajah.Lalu si gajah tersebut bebas dari perangkap itu.Kemudian si gajah sangat berterima kasih kepada tikus-tikus yang menolong nya.
Akhirnya si gajah berjanji ia tidak akan serakah lagi,dan sejak itu pula semua hewan boleh mencari makanan di hutan itu.
6.Teks Biografi
7. Teks Cerpen
6.Teks Biografi
IBUKU INSPIRASIKU
Ibuku bernama Maya Rismayanti lahir di Ciamis ,Jawa
Barat,pada tanggal 23 Februari 1977. Sekarang beliau berusia 38 tahun. Beliau
anak pertama dari dua bersaudara,pasangan dari H.Aceng dan Hj.Mimin.
Ibuku menikah dengan Bapak Aceng Kusmayadi,pada
tanggal 17 Juli 2001 dan dikaruniai dua anak yang bernama Vika Nagita
Sari dan Selia Aira Tirani.
Ibuku mulai sekolah di SDN 1 Sindangrasa pada tahun 1983 , lalu
melanjutkan ke SMPN 2 CIAMIS DAN SMAN 3 CIAMIS. Setelah lulus dari SMA beliau
melanjutkan sekolah di Akademi Kesehatan Lingkungan Bandung.Tahun beliau
mendapat gelar Diploma 3. Cita-cita ibuku menjadi dokter tetapi cita-citanya
tidak tercapai dan bekerja menjadi PNS di RSUD Ciamis.
Beliau mulai bekerja menjadi PNS pada tahun.Beliau
bekerja menjadi PNS di RSUD Ciamis di bagian lingkungan hidup. Sekarang beliau
melanjutkan lagi kuliahnya untuk mendapatkan gelar S1.
Aku sangat bangga dengan semangat belajar ibuku,
selama beberapa tahun beliau belajar, meskipun cita-citanya tidak tercapai menjadi
seorang dokter,tetapi beliau mendapat pekerjaan yang sangat mulia.
7. Teks Cerpen
Permintaan Kecil
Matahari telah
menampakkan sinarnya dari timur. Menggantikan tugas sang rembulan. Sinarnya
menyorot jendela kamar rawat seorang gadis yang telah bangun Dari tidur
nyenyaknya. Yang telah selesai melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim.
Clek
Knop pintu ruang rawat gadis ini terbuka, dari balik pintu muncul sosok pria tampan yang membawa parsel buah-buahan dan sebuket bunga.
Knop pintu ruang rawat gadis ini terbuka, dari balik pintu muncul sosok pria tampan yang membawa parsel buah-buahan dan sebuket bunga.
“Assalamu’alaikum”
sapanya dan meletakkan parsel beserta bunga tersebut di atas meja yang terdapat
di samping kasur.
“Wa’alaikumsalam” jawab gadis ini sambil tersenyum. Tangannya masih menggenggam tasbih sambil melafadzkan beberapa kalimat tasahud dan sebagainya.
“Bagaimana kabarmu?” tanya pria ini yang bernama Riki, kepada sang kekasih yang bernama Laras.
“Begini-begini saja Rik” jawabnya yang tak lepas dari senyum manis yang selalu mengembang di bibir tipisnya.
“Wa’alaikumsalam” jawab gadis ini sambil tersenyum. Tangannya masih menggenggam tasbih sambil melafadzkan beberapa kalimat tasahud dan sebagainya.
“Bagaimana kabarmu?” tanya pria ini yang bernama Riki, kepada sang kekasih yang bernama Laras.
“Begini-begini saja Rik” jawabnya yang tak lepas dari senyum manis yang selalu mengembang di bibir tipisnya.
Laras telah dua
minggu dirawat di rumah sakit. Kanker yang diidapnya kini telah sampai stadium
akhir. Yang berarti, hidupnya tak akan lama lagi. Tapi, Laras tak percaya
dengan kata dokter. Dia hanya percaya dengan Tuhannya, Allah.
Riki membawa Laras
untuk mengelilingi taman rumah sakit. Menyusuri setiap tepian taman. Menikmati
semilir angin yang berhembus di pagi yang cerah ini.
Riki selalu ada di
samping Laras, selalu menjaga Laras, dan selalu menyayangi Laras. Riki dan
Laras telah menjalin hubungan selama dua tahun. Waktu yang tidak cukup singkat
itu dipergunakan mereka untuk mengenal antara satu dan yang lain.
Dan disaat Riki tau
kalau Laras mengidap penyakit Kanker otak, rasanya sulit untuk menerima. Riki
selalu bertanya, kenapa Tuhan memberikannya ujian seberat ini?. Mengapa Tuhan
tidak adil?. Dan mengapa Tuhan memberikan penyakit itu kepada orang yang dia
sayang?, kenapa tidak pada dirinya?.
Laras sangat
menikmati suasana di pagi ini. Sesekali terdengar suara kekehan Laras, karena
melihat anak-anak kecil yang berlarian di taman. Memang Laras sangat menyukai
anak kecil. Menurutnya anak kecil itu lucu.
Tiba-tiba, Laras
merasakan kepalanya sangat sakit. Kepalanya terasa akan pecah. Riki langsung
membawa Laras ke ruang UGD.
Seluruh anggota
keluarga Laras terlihat resah di depan pintu ruang UGD. Di dalam sana,
terbaring Laras yang tengah ditangani tim medis rumah sakit.
Bunda Laras tak
henti-hentinya memanjatkan do’a buat anak semata wayangnya. Tak jarang
terdengar suara isak tangis dari wanita paruh baya tersebut. Sementara ayahanda
Laras, sibuk menenangkan sang istri.
Sementara Riki,
sedari tadi tidak bisa diam. Kakinya selalu melangkah ki kiri dan ke kanan.
Mengacak-acak rambutnya sendiri karena frustasi
Clek
Pintu ruang UGD terbuka. Seorang pria paruh baya yang memakai jas berwarna putih, serta stetoskop yang selalu mengalung di lehernya keluar dengan raut wajah khawatir.
Pintu ruang UGD terbuka. Seorang pria paruh baya yang memakai jas berwarna putih, serta stetoskop yang selalu mengalung di lehernya keluar dengan raut wajah khawatir.
“Apa kalian
keluarga pasien?” tanya Dokter tersebut sambil menatap satu persatu wajah
mereka (ayah bunda Laras, dan Riki).
“Iya, kami keluarganya dok!”
“Pasien ingin bertemu dengan kalian!” ucap dokter sambil mempersilahkan keluarga Laras untuk masuk.
“Iya, kami keluarganya dok!”
“Pasien ingin bertemu dengan kalian!” ucap dokter sambil mempersilahkan keluarga Laras untuk masuk.
Di depan sana,
terbaring seorang gadis dengan berbagai macam kabel yang menempel di tubuhnya.
Tak lupa selang oksigen yang membantu jalannya pernafasan.
“Bund..a.. ayah..
rik..ki” Laras berusaha menyapa keluarganya yang kini berada di dekatnya.
Meskipun sedikit terhalang dengan selang oksigen Yang menempel di hidung dan
menyambut ke mulutnya.
“Iya sayang, Bunda disini” bunda Laras menggamit erat jari-jemari mungil Laras.
“Laras… ma..mau.. pak..ke.. muk..kena” ucap Laras begitu lirih. Riki yang mendengarnya segera meraih mukena yang berada di atas meja nakas. Bunda Laras membantu Laras untuk memakai mukena.
“Al..qur’an.. d..dan.. tasbih” Riki meraih Al-qur’an dan tasbih yang berada di atas meja, dan menyerahkannya kepada Laras.
Laras meraihnya, mendekap Al-qur’an tersebut dan melafadzkan dua kalimat syahadat.
“asyhaduallailahaillallah.. waasyhaduannamuhammadarasulullah” Laras berhasil melafadzkan 2 kalimat syahadat. Dan sedetik kemudian layar monitor di samping mereka menunjukkan garis lurus.
Laras telah kembali kepada-Nya. Dalam keadaan chusnul khotimah. Meninggal dalam keadaan suci. Samar-samar Laras tersenyum dalam tidurnya, yang tak akan bangun lagi.
Tersenyum karena permintaan terakhir nya terkabulkan.
“Iya sayang, Bunda disini” bunda Laras menggamit erat jari-jemari mungil Laras.
“Laras… ma..mau.. pak..ke.. muk..kena” ucap Laras begitu lirih. Riki yang mendengarnya segera meraih mukena yang berada di atas meja nakas. Bunda Laras membantu Laras untuk memakai mukena.
“Al..qur’an.. d..dan.. tasbih” Riki meraih Al-qur’an dan tasbih yang berada di atas meja, dan menyerahkannya kepada Laras.
Laras meraihnya, mendekap Al-qur’an tersebut dan melafadzkan dua kalimat syahadat.
“asyhaduallailahaillallah.. waasyhaduannamuhammadarasulullah” Laras berhasil melafadzkan 2 kalimat syahadat. Dan sedetik kemudian layar monitor di samping mereka menunjukkan garis lurus.
Laras telah kembali kepada-Nya. Dalam keadaan chusnul khotimah. Meninggal dalam keadaan suci. Samar-samar Laras tersenyum dalam tidurnya, yang tak akan bangun lagi.
Tersenyum karena permintaan terakhir nya terkabulkan.